Membuat Hobi Menjadi Bisnis  


4 Pertanyaan Yang Harus Diketahui Sebelum Membuat Hobi Menjadi Bisnis

Hello Yunuz :-)

Hari ini kami mau berbagi informasi mengenai hal-hal apa saja yang perlu Yunuz ketahui sebelum terjun ke dunia bisnis yang berasal dari hobi. Mudah-mudahan informasi ini
bermanfaat untuk Yunuz :-)
Memang sih, KELEBIHAN dari membuka bisnis yang berasal dari hobi, kita tahu betul bahwa kita akan menikmatinya. Kita juga akan merasa lebih 'fun' dalam mengerjakannya. Jauuhhh.. dari rasa bosen! :-)
Tapi apa benar begitu? Sebelum memutuskan untuk membuat hobi Yunuz menjadi bisnis, coba ajukan pertanyaan-pertanyaan ini ke diri sendiri terlebih dulu.

1. Apakah Yunuz bersedia melakukan sesuatu yang berulang-ulang terus?

Diharuskan mengerjakan sesuatu secara berulang-ulang dengan
baik tentu sangat berbeda dengan mengerjakan aktivitas rekreasi
(hobi) tanpa tekanan dan tanpa target bisnis. Tentu saja jika ingin mengubah hobi menjadi bisnis, Yunuz harus siap dengan konsekuensi ini.
2. Apakah hobi Yunuz cukup berharga untuk dijadikan bisnis?

Jangan hanya memikirkan kesenangan Yunuz semata. Lakukan
"market research" sebelum membuat hobi Yunuz menjadi bisnis.
Jika ternyata prospeknya kurang menguntungkan, sebaiknya jangan
dipaksakan. :-)

3. Apakah hobi Yunuz bisa tetap memotivasi Yunuz dalam
menjalankan bisnis hingga 15-20 tahun mendatang?

Tantangan nyata dalam menjalani bisnis yang berasal dari
hobi adalah bagaimana membuat hobi tersebut tetap
menantang, menarik dan berarti sebagai bisnis dalam 15-20
tahun mendatang. Untuk itu, buat daftar mengenai hal-hal
yang paling menarik dan menantang bagi Yunuz. Lalu tetapkan
satu atau dua ide paling potensial yang bisa memotivasi
Yunuz dalam menjalankan bisnis.

4. Apakah Yunuz tetap akan menikmatinya walau...

Jika kelak Yunuz diharuskan menghasilkan 10 ribu karya atau
melakukan hobi Yunuz ratusan kali setiap tahun, apakah Yunuz
akan tetap menikmati hobi Yunuz?

Intinya, memang tidak ada yang salah dengan membuat hobi
menjadi bisnis. Hanya saja matangkan konsep, lakukan market
research dan rancang business plan sebelum menjalankannya.

Hal penting lainnya adalah memiliki pengetahuan bagaimana
memasarkan bisnis Yunuz baik secara offline maupun online.
Karena tanpa marketing yang tepat, tidak ada orang yang
akan membeli produk Yunuz.

Salam,
AsianBrain.com Support Team

Read More...
Link ke posting ini

JANJI WISUDAWAN UNHAS  


SATU
KAMI LULUSAN UNIVERSITAS HASANUDDIN BERJANJI,
AKAN MENJUNJUNG TINGGI NORMA-NORMA ILMIAH
DALAM LAPANGAN KEAHLIAN KAMI MASING-MASING

DUA
KAMI LULUSAN UNIVERSITAS HASANUDDIN BERJANJI,
AKAN SENANTIASA SETIA DAN BERBAKTI PADA
ALMAMATER YANG KAMI CINTAI DAN AGUNGKAN,
UNIVERSITAS HASANUDDIN

TIGA
KAMI LULUSAN UNIVERSITAS HASANUDDIN BERJANJI,
AKAN MENGABDIKAN DIRI KEPADA MASYARAKAT,
BANGSA SERTA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
YANG BERLANDASKAN PANCASILA DAN
UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Read More...
Link ke posting ini

Muhammad Yunus, S.Pi "Akhirnya Sarjana Mi..!"  

Senyum Para Sarjana Muda

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah swt. Sebab detik-detik perjuangan terakhir menuju pencapaian gelar sarjana akhirnya tercapai juga. Tanggal 25 juni 2008, saatnya bagi saya memakai kostum yang katanya kebanggaan para mahasiswa. Kostum hitam dengan topi segi lima alias toga, sebagai penanda bahwa sebentar lagi status mahasiswa sudah tidak lagi disandang. Kostum harapan oran tua yang telah bekerja keras membiayai pendidikan anaknya. Dikenakan saat rapat senat terbuka luar biasa Universitas Hasanuddin sebagai pertanda dan pengakuan bahwa sudah saatnya saya dan teman-teman dari fakultas lain mendapatkan hak untuk menyandang gelar sarjana. Dan sejak saat itu status mahasiswa berubah menjadi alumnus Universitas Hasanuddin Makassar. Sebuah gelar yang harus dipertanggungjawabkan pada masyarakat yang selama ini telah mensubsidi kami. Bentuknya bisa beragam, tergantung individu dan latar belakang pendidikan dari sarjana-sarjana yang ada dalam baruga Andi Pangerang Petta Rani saat itu. Perasaan haru biru dan tentunya bahagia tampak dari wajah-wajah para sarjana muda. Haru karena telah berhasil melalui proses panjang nan melelahkan menempuh pendidikan di Unhas. Bahagia karena akhirnya dapat selesai juga. Sebab tidak semua orang punya kesempatan untuk mendapatkan gelar sarjana. Dan berkesempatan menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Meski gelar sarjana bukanlah sebuah indikator menuju kesuksesan. “Welcome to the real world! “ Selamat datang di dunia nyata, kata teman saya melalui sms. Dalam hati saya, ”Yah.. dari dulu memang nyata bro..!! dunia ini. Teman lain berkata; semoga cepat dapat kerja dan menikah. ” iyah doakan dapat istri yang bisa membimbing dunia akherat bro..! Ups.. sebelum itu dapat kerja dulu kali yah..”. Wah.. wah...!!! berbagai ucapan teman-teman pada kesempatan kali ini, saya cuman bisa membalas dengan kalimat ”thanx bro !”. Di akhir ucapan selamat, masih ada ucapan; kapan traktiranya bro ? ditunggu nah. Uppsss.. Saya cuman bisa membalas; tunggu mi nanti undangannya, he he he....! yah untuk yang satu ini memang sudah menjadi tradisi, ungkapan syukur ketika seorang mahasiswa menyandang gelar sarjana. Bahagia karena telah berhasil menyelesaikan kuliah di Universitas. Meski ada juga mahasiswa yang tidak melaksanakan ritual seperti ini. Makan-makan dan kumpul bersama teman-teman seperjuangan. Baik yang masih betah di kampus maupun yang sudah bekerja. Semua bakal datang dan berkumpul untuk sebuah ungkapan kebahagiaan atas perjuangan selama ini. Selain makan-makan yang pertanyaannya kadang datang dari mahasiswa junior, ada juga pertanyaan serius dari teman seangkatan yang telah lebih dulu menyandang gelar sarjana. ”Jadi setelah ini apa rencana Yunuz ?”. Oh oh oh.. pertanyaan ini agak rumit juga dijawab, sebab hidup tidak bisa di tebak. Manusia cuman bisa berusaha, Allah lah yang menentukan. Namun bagi saya, cita-cita saya adalah ingin menjadi peneliti, kalau pun belum ada jalan ke sana, yah saya rencananya berusaha freelance sambil menunggu kesempatan itu tiba. Untuk saat ini, meminjam istilah teman saya yang sudah kerja di salah satu bank swasta; ”berusaha saja melempar mangga”. Mangga di lempar berkali-kali pasti ada salah satu yang jatuh menurut teman saya itu. Maksudnya yah,,, mencoba lah yunuz mengirim aplikasi lamaran ke berbagai perusahaan yang dirasa cocok. Siapa tahu ada salah satu perusahaan yang mau menerima. He he he...! bagus juga usulan teman saya ini. Mencoba keberuntungan dengan filosofi lempar mangga. Bisa dicoba..!!!

Namun yang lebih penting dari gelar sarjana adalah bagaimana seorang sarjana mempertanggungjawabkan gelar itu. Melaksanakan janji yang dibacakan pada setiap rapat senat terbuka luar biasa wisudawan Unhas. Seperti pada janji ketiga yang telah diucapkan lulusan; “ Kami Lulusan Universitas Hasanuddin Berjanji Akan Mengabdikan Diri Kepada Masyarakat, Bangsa Serta Negara Republik Indonesia Yang Berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945”. Yah semoga saja…! Negeri ini butuh banyak darah pengorbanan serta pengabdian. Tidak cukup hanya dengan gelar sarjana. Harus ada demonstrasi karya yang nyata demi kemajuan peradaban bangsa.
Buat adik-adik ku yang masih bergelut dengan dunia kampus, teruslah belajar, galilah pengetahuan dan teruslah berkarya selagi masih di dalam kampus. Buat adik-adikku di himpunan budidaya perairan terima kasih spanduknya “ Asa bangsa tidak hanya di pundak para sarjana, tapi juga di pundak mahasiswa”. Teruslah kritis pada pengetahuan yang anda peroleh. Sebab bisa jadi ilmu yang diajarkan “Si Einstein” di dalam kelas sudah tidak relevan lagi dengan jamanmu. Bahkan bisa jadi Salah “Si Einstein”. Manusia memang tidak sempurna, namun wajib menuju kesempurnaan ‘Anggarda Paramita’. Kalo wisudawan punya ‘janji wisudawan’, anggaplah ini ‘pesan wisudawan’ buat adik-adiknya. He he he…. Fizh! Salam “perfecto presento by aquaculturo”.

Berusaha Berdiri
Di Atas Jati Diri
Dan Mengabdi
Untuk negeri...
Juga Keluarga...
Serta diri Sendiri...!

Best Regard;

Muhammad Yunus, S.Pi
Lulus tanggal 14 mei dihadapan lima penguji skripsi
dengan IPK 3,15 (Sangat memuaskan)
Wisuda tanggal 25 Juni 2008

Read More...
Link ke posting ini

Hilangnya ATM 20 di Unhas  

Sebagai seorang mahasiswa, keberadaan anjungan tunai mandiri (ATM) sangat membantu saya untuk mengambil uang dengan cepat tanpa harus antri di depan teller BANK. Semenjak menjadi mahasiswa, saya sudah menjadi nasabah Bank BNI Cab. Makassar. Ketika uang di dompet sudah mulai menipis, ATM adalah salah satu pelarian agar bisa makan. Maklum saat saldo di tabungan saya masih tersdisa Rp 50.000, maka saya pun bisa menarik uang dengan nominal Rp 20.000 di atm kampus. Itu dulu, kini ATM BNI dengan pecahan Rp. 20.000 di Universitas Hasanuddin sudah tidak ada lagi. Entah apa alasannya, yang pasti ATM di samping gedung rektorat telah berubah dari pecahan 20 ribu menjadi pecahan 50 ribu rupiah untuk minimal sekali tarik. Begitu pula dengan ATM yang ada di pintu 2 Unhas. Jumlahnya ditambah agar tidak terjadi antrian panjang dari mahasiswa. Namun, nominalnya pun telah berubah menjadi pecahan Rp. 50 ribu dan Rp 100 ribu. Jadi bagi kami mahasiswa yang hanya memiliki saldo Rp. 50 ribu, maaf saja. Anda belum beruntung, karena tidak bisa lagi menarik uang dengan nominal 20 ribu rupiah.

Selain, di lingkungan kampus Unhas, ada juga ATM BNI terdekat yaitu di kampus STIMIK Dipanegara. Pecahannya juga Rp. 50.000. Yang paling jauh adalah di kompleks kantor PT. Bosowa depan kampus UMI. Lagi-lagi pecahannya Rp. 50.000 dan Rp. 100.000. Pihak BNI tampaknya, tidak peduli lagi dengan kondisi mahasiswa seperti saya. Padahal dengan kehadiran ATM dengan pecahan Rp. 20 ribu begitu membantu mahasiswa yang kirimannya terlambat datang. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ATM 20 sudah hilang dari peredaran. Mahasiswa,, seperti saya berhemat saja. Atau memilih opsi terakhir, ”ngutang” ma teman atau warung tempat makan. Hiks hiks hiks...!

Dimana ATM 20 ?
Dimana ATM 20 saat ini, mungkin para nasabah bisa menanyakan pada pimpinan Bank BNI terdekat. Siapa tahu sudah dimuseumkan. Bisa kan dijadikan obyek sejarah bagi para pengguna setia ATM 20. Sebab dengan pecahan 20 ribu, mahasiswa seperti saya bisa hidup 2-3 hari di kos-kosan ataupun rumah kontrakan. Bahkan bisa sampai seminggu, kalo menunya supermi, indomie atawa mie sedap tiga kali sehari. Harganya kan, 1000 rupiah per bungkus untuk ”rasa kaldu ayam” (Rasanya ji...). Jadi sehari dihabiskan 3000 rupiah. Jadi seminggu dibutuhkan 21.000 rupiah. Yah berdasarkan hitung-hitungan di atas, 20 ribu rupiah bisalah digunakan untuk hidup selama seminggu dikurangi 1 kali makan (dikurangi 1000 rupiah). He he he.....

Read More...
Link ke posting ini